Tampilkan postingan dengan label Arif Khunaifi Note. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arif Khunaifi Note. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2011

Sumenep & Penulis Subur

Saya bukan bermaksud meremehkan kabupaten di Madura selain Sumenep, tetapi saya hanya ingin berbagi mengapa banyak sekali penulis subur yang datang dari daerah pucuk Timur pulau Madura tersebut. Anda tentu kenal baik dengan Sang Celurit Emas D. Zawawi Imron, Abdul Hadi WM, Budi Munawar Rahman, Abd A'la, Zuhairi Misrawi atau teman-teman di FB seperti Akhi Halimi Zuhdy serta Akhi Abrar Zamzami dan masih banyak lagi yang tidak bisa sebutkan. Rata-rata tulisan mereka berbau sastra yang melembutkan hati.

Pada suatu kesempatan saya bertanya kepada D. Zawawi Imron tentang fenomena yang bagi saya menarik tersebut. Menurut beliau, karena kebanyakan penduduk Sumenep berasal dari keraton Mataram Islam. Mereka berbudaya tinggi dan penuh dedikasi serta lemah lembut. Maka, sampai saat ini Anda bisa bandingkan bahasa orang Sumenep dengan daerah lain di Madura.
Saya ingin menguji kebenarannya. Suatu saat di Ma'had ada seorang shantri baru dari sebuah desa terpencil di Sumenep. Pendidikannya hanya sampai SMP atau sederajat. Dia sedih termenung sendiri karena terkendala bahasa. Kami semua dari Jawa tidak bisa Bahasa Madura. Dia sebaliknya pula. Kemudian untuk mengeluarkan apa yang dia pikirkan dia saya fasilitasi satu komputer untuk menuliskannya. Hasilnya sungguh luar biasa. Menurut saya tulisannya berupa cerpen dan puisi jauh mengungguli para mahasiswa jurusan sastra. 
Hal ini kembali lagi menyadarkan kepada saya, orang tua yang berbudaya akan melahirkan anak-anak yang berbudaya pula...

Bagaimana?

Senin, 20 September 2010

Jika Kamu tidak Pernah Salah, Silahkan Menyalahkan Orang Lain....

Bagi sebagian orang yang mempunyai hati yang sakit menganggap bahwa semua orang tidak suka kepadanya. Bahkan benda mati pun dianggap ikut benci dan biang sial. Padahal jika menyadari, semua keterpurukan diri adalah itu berawal dari sendiri.
Yang terpenting bagi kita sebenarnya adalah muhasabah atau cek ricek diri kita sendiri sebelum menyalahkan siapa saja di luar kita. Memang mudah untuk melihat punggung orang lain, tetapi betapa sulitnya melihat punggung sendiri.
Tidak ada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan di atas muka bumi ini, akan tetapi manusia yang baik adalah segera menyadari kesalahan itu dan segera memperbaikinya. Nabi dawuh, orang yang beriman tidak akan jatuh dua kali di lubang yang sama.
Saya kemudian juga teringat dawuhnya KH. Mustofa Bisri, Jika kamu tidak pernah salah, silahkan menyalahkan orang lain....

Minggu, 19 September 2010

Kerendahan Hati Orang Indonesia

Melihat sepak terjang Iwan Fals dengan berbagai karyanya yang monumental sungguh mengingatkan saya pada para tokoh besar terdahulu. Letak garis yang mengingatkan saya itu adalah kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari. Seakan-akan dia bukanlah pemimpin musisi yang dihargai jutaan orang. Seakan-akan dia bukan pimpinan OI (Orang Indonesia) yang organisasinya berkembang sampai belahan dunia.
Keteduhan wajahnya itu sungguh luar biasa. Guratan wajahnya tidak menampakkan kesombongan. Pelosok-pelosok desa dia susuri, untuk menemukan sesuatu kebenaran sejati yang dia yakini....